[FlashFiction] Gelap Mata

Suara di balik pintu itu berdegum lagi. Pekikan Ibu semakin keras seiring suara benda tumpul saling beradu. Beginilah jika keinginannya ada yang tak terpenuhi.

“Ibuuu… Ibuuu… apa Ibu baik-baik saja?!” kugedor pintu kamar utama itu berkali-kali.

“Lari, Putraa..!! Larilah, Nak..!!”

“Tidak, Bu! Aku tidak akan meninggalkan Ibu sendiri!”

“Ibu baik-baik saja, Nak. Pergilah cepat!”

Langkah kaki itu kini menuju ke arahku. Kukumpulkan keberanianku. Aku ini lelaki. Harusnya aku bisa melindungi Ibu.

Pintu di hadapanku berderit kasar. Lelaki bengis yang kubenci itu tengah menatapku. Diarahkannya tongkat kayu sebesar tongkat bisbol itu tepat di depan hidungku.

“Jangan macam-macam kau! Kalau tidak …” Digerakkannya tongkat itu pada lehernya sendiri dari kiri ke kanan. Lalu berlalu begitu saja.

Aku segera masuk ke kamar Ibu yang tanpa penerangan itu. Kuraba saklar lampu yang berada di sebelah kiri tak jauh dari pintu. Seketika nampak siluet Ibu yang memeluk lututnya erat di sudut ruangan.

“Tenang, Bu. Dia sudah pergi. Ayo kita obati luka Ibu dulu.” Kugoyangkan pelan tubuhnya, namun seketika roboh ke samping. Jantungku rasanya berhenti berdentum sepersekian detik.

Genapnya Ibu menutup mata, akupun gelap mata.

***

“Bang, apa di sana kau bisa dapat motor baru?” Kugerak-gerakkan kepala yang bergelundungan seperti kelapa di depanku ini dengan ujung kayu yang kupotong dengan gergaji yang berlumuran darahnya.

Sebagian lain kubakar untuk menghangatkan diri. Walau sebenarnya hanya sekadar ingin mempercepat habisnya oksigen di ruang sempit ini.

Tujuh hari lalu, Ibu sudah kukubur dengan layak. Kini tinggal aku yang mengubur diriku sendiri dan tentu saja abangku yang brengsek ini. Di samping makam Ibu.

image

***
250 kata

Pretest Prompt #MFFIdol2: Triple Prompt from Mentor

Iklan

[Puisi] Dalam Sebuah Rangkaian Doa

Pertemuan yang terdengar mustahil itu masih kurapal halus dalam ujung-ujung doa.

Jika Tuhan berkenan.. aku yakin akan ada saatnya doa-doa yang terlipat dalam sudut-sudut sajadah itu akan terbang bagai kupu-kupu tak kasat mata yang akan menjelajahi semesta. Merangkul dan merangkai setiap kejadian yang saling berantai tanpa kita duga.

Lantas kita menyebutnya sebagai kebetulan belaka. Lalu mengabaikannya. Dan menganggap doa kita tidak pernah didengar-Nya.

*abis nonton Mini Drama AADC 2014* 😀

[FlashFiction] Dance with My Father

Lenganku masih melingkar di tubuhnya. Kurebahkan kepalaku pada dada bidangnya. Aroma wangi tubuhnya menyeruak lembut. Gemericik air hujan di larut purnama ini mengalunkan denting-denting yang membawaku semakin terlena dalam rengkuhnya bagai sedang berdansa.

“Apa aku benar, Ayah? Apa dia pria yang akan kau beri restu mencintai putri kecilmu ini? Dia punya sinar mata yang mampu menghasilkan pelangi saat mataku deras dengan lelehan kesedihan bahkan kemarahan. Aku merasa waktu begitu cepat berlalu jika aku sedang bersamanya. Lalu sesaat semua bagai terhenti saat kami bersitatap. Aku melihat matamu di sana, Ayah. Mata hangatmu.”

Kudongakkan wajahku pada tubuhnya yang terbaring di ranjang tepat di depanku duduk takzim di sampingnya. Ia tersenyum lalu mengusap rambutku.

“Semoga dia akan membahagiakanmu lebih dari Ayah membahagiakanmu, Nak.” Aku kembali memeluknya.

“Ayah harus segera sembuh dan ikut kami berbulan madu ke pantai favorit kita dulu,” aku begitu bersemangat.

“Pantai favorit Ibumu, ya? Ah, andai saja dia masih di sini. Mungkin dia yang paling berisik menyiapkan pernikahanmu esok pagi.” Kulepaskan pelukanku dan mendapati mata tuanya menerawang langit kamar. Ada genangan kecil di sudut matanya. Ayah memang sering sakit sejak Ibu meninggal dua tahun yang lalu.

“Oh iya. Bisakah kau kenakan gaunmu untuk esok pagi itu? Ayah ingin lihat.”

“Aah.. Bukankah Ayah juga akan melihatnya esok pagi?” aku tersipu.

“Sudahlah, Ayah ingin lihat sekarang puas-puas, sebentar saja.”

“Baiklah, tunggu sebentar.” Aku segera berlari ke kamarku dan antusias mengenakan gaun putih yang menjuntai panjang ke lantai itu. Berkali-kali aku berputar dan berkutat di depan cermin. Segera kemudian berlari kembali menuju kamar Ayah yang ada di sebelah kamarku.

“Ayah…” Matanya memejam. Apa aku terlalu lama sampai Ayah tertidur? Kupandangi wajahnya seksama. Perlahan matanya terbuka. Ia tersenyum lebar sekali.

“Cantik sekali putri Ayah.” Aku tersipu sekali lagi kemudian menghambur ke peluknya.

***

Jam berdentang lima kali. Kukerjapkan mataku pada jam besar kesayangan ayah di pojok kamar ini. Pukul lima pagi? Subuh sudah hampir habis. Rupanya aku semalam terlelap di sini masih lengkap berbalut gaun pengantin. Kutolehkan wajahku pada ayah. Ayah masih tidur? Aneh. Bukankah biasanya ia selalu membangunkanku untuk sholat malam setiap pukul tiga?

“Ayah, sudah subuh. Ayo sholat dulu.” Kupandangi posisi tubuhnya. Telentang dengan tangan rapi mendekap dada. Wajah teduhnya berhias senyum yang merekah. Gemetar kugenggam tangannya yang dingin. Kudekatkan telingaku pada dadanya. Tak ada degub di sana. Kuarahkan tanganku pada hidungnya. Tak ada lagi napas sengalnya. Tubuhku mematung, suaraku cekat. Tangisku pecah.

Ayah… Sayapnya sudah mengepak jauh ke surga.

***

400 kata

“DANCE WITH MY FATHER. Ya, dansa terakhir. Aku menatap Ayah lurus ke matanya. Tak lama kemudian, sayapnya mengepak. Dan ia pergi, selamanya.” – Carolina Ratri

Prompt #68: Judul Lagu – Monday FlashFiction

Untuk ayahku yang sudah lebih dulu terbang ke surga sebelum putrinya ini menemukan pria bermata bias pelangi, aku merindukanmu.. :’)

[FlashFiction] Tertangkap Mimpi

Pernahkah kalian merasakan sesuatu yang tidak masuk akal tapi sangat kalian yakini? Ya, inilah yang kurasakan sekarang. Berjalan sendirian menuju hutan yang gelap ini. Aku tak pernah senekat ini. Firasatku buruk, tapi entah apa yang mendorongku. Sejak mimpi aneh seminggu lalu, aku tidak bisa terlelap setiap malam. Awalnya aku hanya berpikir karena aku terlalu lelah banting tulang di tanah rantau ini. Homesick atau semacamnya.

Setiap malam, keringat dingin mengucur seperti telah berlari maraton sekian kilometer. Dream catcher? Ah, aku sudah memasangnya di atas tempat tidurku sejak lama, tetapi tak pernah ada hasilnya. Yang terjadi justru mimpi buruk yang sama berulang kali. Aku sebenarnya memang tidak pernah percaya pada benda semacam itu. Tapi apa salahnya mencoba.

Kanopi hutan ini semakin terasa menyeramkan. Sang surya sudah lelap dalam pelukan malam. Berteman purnama dan senter yang kugenggam, aku memberanikan diri. Aku rasa aku sudah berada pada jalur yang sesuai seperti dalam mimpiku. Suasana di sini sama persis. De javu. Tanpa sengaja aku tersandung sesuatu. Kayu bakar?! Aku baru sadar, di sinilah mimpiku itu terhenti. Tiba-tiba semua terasa berputar.

Tahu-tahu aku menjejak padang rumput luas dengan bunga-bunga yang cantik. Di mana aku? Aku menoleh ke segala penjuru. Bukankah ini taman belakang rumahku?

“Arien…” Aku terpekik. Senter yang kugenggam bergetar hebat. Seorang wanita dengan kepala hampir putus itu tergeletak di kakiku. “Anakku…”

Apa?! Suaraku cekat, hilang entah ke mana.

“Tolong kembalikan ini pada ayahmu dan perempuan itu, Nak. Mereka meninggalkannya di sini.”

Badanku tergoncang hebat. “Arien, banguuun!!!” Alice, teman sekamarku itu memekik keras sambil menunjuk sesuatu yang ada di pangkuanku. Sebilah kapak dengan darah segar.

***

260 kata

Prompt #64: Pile of Wood Sticks – Monday FlashFiction

[Flashfiction] Kilatan Cahaya Hijau

Pagi itu seperti biasa, tugas kami para peri telah dibagi. Aku dan kedua sahabatku, Vidia dan Luis, mendapat tugas mengumpulkan nektar dari bunga-bunga ajaib yang tak kasat mata para lebah.

Terbang jauh dari sarang kami untuk mencari bahan madu terbaik adalah tugas yang paling menyenangkan. Kami bisa melampaui bermil-mil jauhnya dengan segala petualangan yang takkan habis diceritakan.

Matahari tengah tegak lurus dengan bayangannya saat kami sampai di padang bunga yang kami cari. Kami segera berpencar. Indera penciuman kami sangat tajam, jadi dengan mudah kami bisa segera menemukannya.

Kali ini aku mencium aroma bunga yang harumnya tak pernah kurasakan. Pasti nektarnya sangat manis dan ajaib. Kututup mataku dan terbang rendah sambil mengikuti begitu saja ke mana arah aroma itu membawaku.

“Pixie, jangan ke sana!” Luis memanggilku dari balik rimbun bunga berwarna ungu di hadapannya.

“Kenapa?” sahutku.

“Di sana daerah terlarang, ada penyihir jahat yang menaunginya,” Vidia menyahut sambil menyembul dari semak bunga berwarna jingga.

“Tidak apa-apa, aku bisa jaga diri. Tenang saja,” walau aku sendiri tak yakin. Tapi aku sudah terlanjur penasaran.

“Jangan melewati batas itu, Pixie,” Luis menunjuk sebuah dinding yang seperti gelembung sabun raksasa yang menutupi daerah itu hingga membentuk kanopi. “Atau kau akan menyesal,” kalimat Luis kini lebih seperti ultimatum.

“Baiklah,” aku berusaha meyakinkan.

Mataku kembali tertutup, kuserahkan arah terbangku pada penciumanku. Aroma itu semakin dekat. Semakin dekat. Dan bunga berwarna kuning cerah itu kini di hadapanku. Aromanya nikmat sekali. Sekali lagi aku menciumnya dari dekat.

Tiba-tiba kurasakan ada dengus napas berat di belakangku. Ia menatapku lurus dengan mata hijaunya. Oh, tidak! Apa yang sudah kulakukan? Ternyata tanpa sadar aku telah masuk daerah terlarang.

Makhluk berbulu itu mengoyak sayapku dengan taringnya. Aku menggelinjang berusaha melepaskan diri. Semakin aku berontak punggungku rasanya seperti dibelah. Aku berteriak meminta pertolongan, tak ada yang mendengar.

Makhluk itu membawaku ke sebuah gubuk tua kemudian meletakkanku pada sebuah kuali. Badanku tak bisa kugerakkan, lukaku terlalu menganga. Darahku membanjiri kuali ini. Makhluk berbulu itu kembali mengoyak bagian belakangku. Merobek sayapku hingga terlepas dari punggungku. Aku mengerang keras. Lalu satu tangan atau entah kakinya yang bercakar tajam itu meraihku, mengeluarkanku dari dalam kuali. Setelah itu ia memasukkan nektar ajaib dari keranjangku ke dalam kuali itu dan entah banyak lagi bahan yang lain. Terakhir dia mengeong dengan sangat keras dan masuk dalam kuali yang kini seperti mendidih itu.

Ledakan besar terjadi. Menyembulkan asap merah memenuhi ruangan. Ia terkekeh riang. Sosok itu muncul dari balik asap. Penyihir yang terkutuk berabad-abad lalu kini berdiri di hadapanku, dan mungkin aku hanya sebesar ibu jari kakinya.

“Seharusnya kau mendengarkan nasehat teman-temanmu itu, Sayang. Sekarang teman-temanmu itupun dalam bahaya. Dan kau sudah tak berguna lagi,” ia terkekeh kembali.

Ia menodongkan tongkat sihirnya padaku dengan wajah  menyeringai. Aku terseok-seok mundur. Tak ada lagi tenaga. Separuh nyawaku yang ada pada sayapku itu kini telah lenyap dari ragaku.

Cagrin ratsach!” teriaknya. Kilatan cahaya hijau menghujamku. Tubuhku meregang, lalu semua menjadi gelap.

***

475 kata.

*edited* mantranya sudah diganti. 😀 Terima kasih atas masukannya. 🙂

Prompt 63 – Si Mata Hijau — Monday Flashfiction

[FlashFiction] (Not) Happily Ever After

image

Sumber: weheartit.com/entry/116724962

Jadi, kau menikah hari ini? Selamat, ya,” Rapunzel memeluk Cinderella.

“Sebentar lagi kau akan merasakan happily ever after seperti kami,” tambahnya antusiasnya. Ariel mengangguk mengiyakan.

“Tidak,” Cinderella melepaskan pelukan Rapunzel dan menatap kedua sahabatnya, “Aku tidak akan menikah dengannya,” lanjutnya.

“Kenapa? Apa kau tidak bahagia bersamanya?” Rapunzel menggenggam jemari Cinderella. Cinderella menggeleng.

“Apa yang terjadi, Cindy? Bukankah ini yang kau tunggu? Pangeran itu pun telah mencarimu sekian lama hingga ke seluruh negeri.”

“Itulah,” Cinderella menatap hangat kedua sahabatnya.

“Ariel, kau diingat karena suaramu yang merdu, dan kau Rapunzel, kau dengan rambut indahmu. Aku? Kenapa dia tak mengingat wajahku, suaraku atau rambutku? Yang dia ingat hanya kakiku. Bahkan setelah berdansa denganku semalaman tanpa menggunakan topeng atau semacamnya. Maka dari itu, sudah kuserahkan yang dicarinya, yang dicintainya.”

Cinderella mengangkat gaun panjang yang sedari tadi menutupi kakinya. Rapunzel dan Ariel terpekik melihat tak ada pergelangan kaki di sana.

***

145 kata.

Prompt 62 – Hey, Girls! — Monday Flashfiction

Karya Terpilih Prompt 62 – Monday FlashFiction

[FlashFiction] Ramalan Lamaran

image

“Sudah mau pesan?”

“Sebentar lagi.” pelayan itu berlalu dengan muka masam.

Terang saja.

Akhir pekan ini libur panjang. Restoran penuh dengan pelanggan. Hingga sebagian ada yang tertolak karena meja sudah penuh.

James, suamiku juga berjanji mengajakku makan malam romantis di restoran tepat aku sedang duduk menunggunya kini. Perutku hampir penuh dengan air putih yang disuguhkan pelayan sejak dua jam lalu. Hari ini ulang tahun pernikahan kami. Tepat di meja inilah ia melamarku 30 tahun yang lalu.

Malam itu hujan lebat, basah kuyup ia berlari sambil memeluk sebuah boneka beruang besar.

“Selamat ulang tahun.” Ia duduk di sampingku dan meletakkan boneka itu di hadapan kami. “Dengar Jane, ia akan meramalkan sesuatu untuk kita.”

“Boneka ini?”

“Ya. Coba pencet hidungnya.” Kuturuti saja apa katanya. Tiba-tiba boneka itu seakan hidup, matanya berkedip ke arahku.

“Kalian akan bahagia selama kalian saling memakai cincin ini. Ini adalah cincin bertuah. Jika salah satu hilang, maka …” boneka ajaib itu bersuara untuk pertama dan terakhir kalinya. Kalimatnya yang menggantung membuat kami mematung.

Semua itu terasa baru kemarin. Kami tak pernah percaya ramalan beruang yang didapat James dari seorang kakek tua penjual barang antik itu. Sampai akhirnya …

“Permisi, Nek. Jika Nenek tidak ingin pesan sesuatu, ada pelanggan lain yang ingin menempati meja ini.” suara pelayan bermuka masam itu membongkar lamunanku.

“Baiklah. Aku pulang saja.” aku baru ingat kalau hari ini adalah peringatan tahun kesepuluh hari kematian James. Ya, 10 tahun yang lalu saat menuju ke sini. Ia dirampok, semuanya hilang, begitu pula cincin dan nyawanya.